Hadapi Tantangan Raih Kebahagiaan, Kisah Pencapaian 7 Puncak Gunung Tertingi di Indonesia

Posted by Main Outdoor on

 

“Hidup adalah soal keberanian
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan
Hadapilah”

-Soe Hok Gie-

 

Memilih Jalan Hidup Sebagai Pecinta Alam dan Pendaki Gunung

Diklatsar Pecinta Alam SMAN 38 Jakarta di Gunung Salak 2005

Suatu sore sepulang sekolah, 15 tahun lalu saat masih duduk di kelas X Sekolah Menengah Atas, saya berkumpul bersama-sama teman satu angkatan ekstrakurikuler Pecinta Alam SMAN 38 Jakarta, di rumah salah satu anggota, di daerah Pasar Minggu. Saat itu kami baru beberapa minggu dilantik menjadi anggota, setelah menempuh Pendidikan dan Latihan Dasar Pecinta Alam di Gunung Salak. Kegiatan tersebut bagi para siswa adalah gerbang untuk menjadi bagian dari ekstrakurikuler pecinta alam, namun bagi saya sendiri merupakan gerbang yang membuka jalan kehidupan saya sampai saat ini. Melalui kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar, kami mendapatkan proses pendidikan karakter, membangun karakter individu, membangun karakter organisasi, dan nilai-nilai kehidupan.

Saat itu, kami berkumpul dalam rangka merayakan kebahagiaan setelah menjadi anggota ekstrakurikuler pecinta alam. Acaranya santai, mengenang kembali cerita-cerita saat di Gunung Salak, makan-makan dan nonton film bersama. Yang menarik saat kumpul-kumpul adalah ketika menonton film petualangan, saat itu ada 2 film yang kami tonton, yaitu “Gie” dan “Vertical Limit.” 2 film tersebut menginspirasi diri saya untuk terus melakukan petualangan-petualangan yang luar biasa. Soe Hok Gie, merupakan tokoh pelopor pecinta alam di Indonesia, salah satu pendiri Mapala UI, dia dikenal juga sebagai sosok aktivitas pergerakan mahasiswa yang fenomenal di tahun 1966. Kutipan kalimat Soe Hok Gie di awal artikel ini, merupakan sebagian dari bait Puisi Mandalawangi Pangrango yang sangat menarik dan membekas dalam diri saya. Saya jadi teringat masa-masa pemilihan masuk ekstrakurikuler pecinta alam, dengan motif awal cuma ingin berani mencoba sesuatu hal baru di masa remaja, yaitu mendaki gunung, kegiatan yang belum pernah saya lakukan.

Melalui film kedua “Vertical Limit, lain lagi inspirasi yang saya dapat. Film tersebut menggambarkan kegiatan pendakian gunung es di daerah Pakistan, dengan berbagai adegan menantang, seru, menggunakan aneka perlengkapan pendakian gunung es yang menarik. Dalam hati saya berkata, “naik gunung es itu keren ya, suatu saat gue juga harus bisa kayak gitu, kalau belum bisa keluar negeri minimalnya gunung es di ujung timur Indonesia, yang dari kecil saya kenal dengan nama Puncak Jayawijaya.” Sejak saat itu, saya benar-benar semakin bangga menjadi anak pecinta alam yang suka berpetualang di gunung. Saya lebih serius menjalani ekstrakurikuler pecinta alam, walaupun latihannya berat, ya diterima dan hadapi saja, seperti kata Gie. Mendaki gunung itu memang berat secara fisik, tetapi kegiatan tersebut telah memberikan kebahagian bagi hidup saya. Saat SMA, paling tidak 3 bulan sekali, saya selalu pergi ke gunung di sekitar Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, yang paling dekat dari Jakarta.

Setelah lulus SMA, saya melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta. Sejak awal masuk kuliah, agar dapat terus menyalurkan kegemaran saya berpetualang, saya mencari unit kegiatan mahasiswa pecinta alam (mapala) di UNJ yang bernama KMPA Eka Citra. Saat semester I itu juga saya bergabung melalui proses rangkaian pendidikan dan latihan dasar. 2 tahun pertama di Mapala, saya sedikit pindah haluan petualangan, dari mendaki gunung, beralih ke penelusuran gua dengan alasan sederhana. Sejak SMA, saya belum pernah sekalipun masuk gua, maka saat menjadi anggota mapala saya tertarik untuk menggelutinya. Selama 2 tahun saya fokus di kegiatan penelusuran gua, hingga bisa menjelajahi keindahan Gua Jomblang di Yogyakarta dan Gua Leang Pute di Kawasan Karst Maros Sulawesi Selatan, yang merupakan gua dengan lorong vertikal terdalam di Indonesia, dengan kedalaman 270 m (single pitch). Walaupun aktif di kegiatan penelusuran gua , tetapi dalam 2 tahun itu saya juga tetep konsisten mendaki gunung, paling tidak setahun dua kali.

 
Pengambilan Nomor Anggota Mapala KMPA Eka Citra UNJ di Gunung Ciremai 2008

 Titik balik saya kembali menekuni kegiatan pendakian gunung dimulai pada akhir tahun 2009. Saat itu KMPA Eka Citra UNJ akan melakukan ekspedisi besar, yaitu pendakian 10 gunung di Indonesia pada tahun 2010. Saya diamanahkan sebagai Ketua Pelaksana ekspedisi tersebut. Awalnya, saya sedikit ragu untuk dapat menerima amanah tersebut, namun saya kembali teringat, dulu waktu SMA pernah punya cita-cita mendaki ke Puncak Tertinggi Indonesia, Jayawijaya, barangkali inilah jalan pembukanya. Hal itu menguatkan kepercayaan diri dan semangat saya untuk menerima dan menghadapi tantangan tersebut, yaitu memimpin pelaksanaan ekspedisi gunung pada tahun 2010. Pintu inilah yang kemudian mengantarkan saya benar-benar menekuni seluk beluk kegiatan pendakian gunung hingga menjadi profesi serta terus berusaha menjiwai pola pikir dan nilai-nilai hidup seorang pendaki gunung. Jalan hidup yang diawali dengan bermodalkan keberanian menerima dan menghadapi tantangan yang ada, hingga kemudian mengantarkan kebahagiaan-kebahagiaan dalam hidup saya.

 

Sekilas Tentang The 7 Summits Of Indonesia

Salah satunya keberhasilan yang saya capai di bidang pendakian gunung adalah berhasil menapaki tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia yang dikenal dengan istilah The 7 Summits Of Indonesia dalam kurun waktu 2010-2017.  Program tersebut merupakan penjelajahan 7 puncak gunung tertinggi yang berada di 7 pulau/ kepulauan di Indonesia, yang terdiri dari:

  1. Gunung Kerinci (Pulau Sumatera),
  2. Gunung Semeru (Pulau Jawa),
  3. Gunung Rinjani (Pulau Lombok, NTB – Kep. Sunda Kecil),
  4. Gunung Bukit Raya (Pulau Kalimantan),
  5. Puncak Rante Mario – Peg. Latimojong (Pulau Sulawesi),
  6. Gunung Binaiya (Pulau Seram, Kep. Maluku), dan
  7. Carstensz Pyramid – Peg. Sudirman (Pulau Papua).

Gunung-Gunung tersebut memiliki keunikan, keindahan, dan daya tarik yang luar biasa bagi kalangan pendaki gunung, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kegiatan ekspedisi bagi setiap petualang atau organisasi para petualang, merupakan salah satu tolak ukur eksistensi, aktualiasi dan pencapaian prestasi dari orang atau organisasi tersebut, begitupun dengan kegiatan ekspedisi The 7 Summits Of Indonesia ini. Konsep ini mulai ramai dikenal di Indonesia pada tahun 2008, setelah salah seorang Pendaki Gunung di Indonesia, mempopulerkan secara masif konsep melalui berbagai komunitas dan media informasi lainnya. Sebagaimana informasi di halaman website www.the7summitsofindonesia.com, bahwa rekor pertama pendaki yang berhasil menyelesaikan sirkuit The 7 Summits Of Indonesia terjadi pada tahun 2011. Saya sendiri adalah orang kelima belas yang berhasil menyelesaikan sirkuit ini pada tahun 2017. Saat ini ekspedisi tersebut sudah sangat populer sekali di kalangan pendaki Indonesia serta negara tetangga Asia Tenggara. Saat ini, tercatat di website tersebut, 37 orang sudah berhasil menyelesaikan sirkuit pendakian The 7 Summits of Indonesia.

 

Kaitan Adversity Quotient dan Pencapaian The 7 Summits Of Indonesia.

 
Basecamp Lembah Danau-Danau Carstensz Pyramid 2012

 Perjalanan panjang saya mendaki gunung, khususnya saat menjelajahi 7 puncak tertinggi Indonesia dalam kurun waktu 7 tahun, bukanlah suatu proses yang mudah, tetapi berliku dan penuh tantangan. Namun itu semua akhirnya bisa saya capai dengan tekad menggapai cita-cita yang kuat, serta diiringi semangat dan daya juang yang tinggi. 3 Gunung berhasil saya gapai saat masih menjadi mahasiswa melalui program ekspedisi organisasi, 2 gunung saya gapai saat melakukan ekspedisi mandiri bersama teman-teman setelah lulus kuliah, 1 gunung saya gapai saat menjalankan tugas sebagai pemandu wisata gunung dari perusahaan tempat saya bekerja, dan 1 gunung saya gapai bersama dengan istri tercinta, saat perjalanan bulan madu paska resepsi pernikahan kami. Dari semua perjalanan tersebut, saya memiliki peran yang sama, yaitu sebagai pimpinan perjalanan/ekspedisi, entah itu perjalanan pribadi, bersama organisasi ataupun perusahaan.

Setiap perjalanan tentu memiliki kisah yang berbeda-beda, namun memiliki kesamaan frekuensi dilihat dari sudut pandang kita sebagai pendaki gunung, khususnya mengenai pola pikir pendaki dan daya juang dalam menggapai impian. Hal ini didasari oleh sebuah konsep daya juang seseorang dalam menghadapi tantangan yang dicetuskan oleh Paul G. Stoltz dengan istilah “Adversity Quotient (AQ), yaitu kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup, dalam hal ini tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap kesulitan. Menurutnya, peranan AQ sangat penting dalam mencapai tujuan hidup visi seseorang. AQ digunakan untuk membantu individu memperkuat kemampuan dan ketekunannya  dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari, sambil tetap berkembang pada prinsip dan impian yang menjadi tujuannya. Selain konsep dasar di atas, Stolz juga mengklasifikasikan karakteristik manusia sesuai dengan 3 tingkatan AQnya, yaitu: Quitters, Campers, dan Climbers

Quitters adalah mereka yang berhenti, seseorang yang memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti apabila menghadapi kesulitan. Yang kedua, Campers, adalah mereka yang puas dengan mencukupkan diri dan tidak mau mengembangkan diri, mereka nyaman dengan pencapaian yang sudah dilakukan dan cenderung enggan melangkah lebih tinggi. Yang ketiga, Climbers, adalah kelompok orang yang selalu berupaya mencapai puncak kebutuhan aktualisasi diri. Kelompok ini adalah tipe manusia yang berjuang seumur hidup, selalu siap menghadapi tantangan serta menciptakan pencapain-pencapaian baru yang lebih tinggi.

Dari ketiga tingkatan karakteristik, tipe Climbers/ Pendaki inilah yang idealnya kita miliki sebagai individu untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan dalam menggapai tujuan hidup. Hal tersebut, menjadi inspirasi bagi saya untuk konsisten dalam melatih kemampuan AQ, khususnya pola pikir dan sikap pendaki selama bertahun-tahun, hingga dapat mencapai berbagai pencapaian pendakian gunung, salah satunya The 7 Summits Of Indonesia. Dalam perjalanan menggapai 7 puncak tertinggi Indonesia, banyak kisah dan pengalaman menarik di tiap gunungnya, yang memberikan nilai pembelajaraan yang berbeda-beda pula. Dalam artikel ini saya hanya ceritakan rangkumannya saja, semoga suatu saat nanti juga dapat merangkainya menjadi sebuah buku yang dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

 

Pencapaian The 7 Summits Of Indonesia 2010-2017

Hadapi tantangan dan bangkitkan kekuatan menggapai Puncak Semeru dan Puncak Rinjani pada Tahun 2010

 
Puncak Gunung Semeru 27 Juli 2010

 Puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 mdpl di Jawa Timur dan Puncak Gunung Rinjani 3726  di Nusa Tenggara Barat adalah dua puncak pertama yang saya gapai pada 28 Juli 2010 dan 16 Agustus 2010. Cerita awal pencapaian dua puncak ini berawal saat saya memimpin “Ekspedisi Citra Lintas Nusantara- KMPA Eka Citra UNJ 2010,” yang akan menjelajahi 10 gunung tinggi di pulau/ kepulauan besar di Indonesia yaitu Kerinci, Dempo, Semeru, Raung, Agung, Rinjani, Halau-halau, Rantemario, Bawakaraeng dan Binaiya. Sebagai ketua ekspedisi, tugas saya memimpin keseluruhan proses ekspedisi, dari kepanitiaan, tim pendaki, hal teknis maupun hal nonteknis dalam proses ekspedisi selama 6 bulan. Dalam pelaksanaannya, saya juga turut serta melakukan pendakian, dengan mendaki ke Gunung Semeru, Raung, Agung dan Rinjani secara maraton selama satu bulan Juli-Agustus 2010.

Melalui pengalaman pendakian tersebut, terkait membangun pola pikir pendaki, saya mendapati bahwa kunci pertama untuk bisa mencapai impian adalah dengan menghadapinya. Dengan kita “hadir” dan menghadapinya, maka di situ juga akan muncul kekuatan luar biasa dalam diri kita yang dapat mengubah tantangan dan kesulitan menjadi kebahagiaan. 6 bulan lamanya saya berproses bersama dengan teman-teman, mulai dari membuat konsep, rapat-rapat, latihan fisik, latihan teknis, dan mencari sponsor. Proses panjang yang sangat menjenuhkan, berat, menguras fisik, pikiran dan emosional. Tetapi kesulitan-kesulitan tersebut tidak membuat saya menyerah, setelah “hadir” menghadapi tantangan.

Hal selanjutnya yang saya lakukan sebagai kunci kedua adalah membangkitkan kekuatan. Kekuatan ini dibangun dari adanya kemauan atau tekad yang kuat ditambah keahlian manajemen ekspedisi, hingga kemudian membuat saya dan tim berhasil menemukan strategi-strategi menghadapi kesulitan. Pada akhirnya proses yang berat tersebut bisa kami lalui sampai berhasil mencapai kesepuluh puncak tersebut, termasuk dua puncak yang saya gapai sebagai bagian dari 7 Puncak Tertinggi Indonesia.

Puncak Gunung Rinjani 16 Agustus 2020

 

Libatkan Dimensi Kekuatan Diri Menuju Puncak Tertinggi Indonesia, Gunung Carstensz Pyramid pada Tahun 2012
 
Tim Pendakian Carstensz Pyramid 2012

Puncak Carstensz Pyramid adalah puncak ketiga yang saya gapai dan merupakan pencapaian puncak yang paling fenomenal. Saya berhasil menggapainya pada tanggal 9 September 2012. Puncak Carstensz Pyramid, sebagai puncak tertinggi di Indonesia (4884 mdpl) dan fenomena daerah bersalju di khatulistiwa, adalah puncak idaman bagi mayoritas pendaki gunung di Indonesia. Pencapaian puncak Carstensz jelang akhir tahun 2012 adalah salah satu titik balik pencapaian hidup saya, setelah sebelumnya di awal tahun saya sempat mengalami kedukaan yang mendalam. Pada 1 Februari 2012, saya dan teman-teman di mapala, kehilangan salah satu anggota yang meninggal dunia saat kegiatan di alam terbuka. Lalu pada 9 Maret 2012, saya kehilangan orang tua (ayah) yang meninggal dunia. Kedukaan yang berdekatan tersebut, sempat membuat saya sangat tidak produktif hampir sebulan lamanya, sampai akhirnya saya diingatkan kembali terhadap peran saya yang sedang mendapat amanah sebagai Ketua Ekspedisi 7 Summits of The World KMPA Eka Citra UNJ dengan target Carstensz Pyramid dan Kilimanjaro di tahun 2012. Sebagai anak pertama, saya bertekad harus bisa melanjutnya peran ayah saya, menjadi teladan untuk ketiga adik saya, dan yang terpenting kuliah saya yang sudah masuk tahun keenam, harus segera diselesaikan. Kekuatan tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi saya untuk bangkit menggapai impian dengan target 2012 saya selesaikan pencapaian puncak gunung dan 2013 saya selesaikan kuliah saya hingga menjadi sarjana.

Sejak saat itu, mulailah saya melanjutkan persiapan ekspedisi kembali dengan target pertama Carstensz. Tantangan menuju Carstensz lebih berat dari persiapan ekspedisi saya sebelumnya, karena konon sulitnya mengurus perizinan, biaya yang besar, dan tingginya tingkat kesulitan teknik pendakian gunung. Saya masih ingat, bagaimana setiap hari pagi sampai siang harus bergerak mencari sponsor, dengan target utama salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia untuk mendapatkan izin melintas di Gunung Carstensz dan dukungan sponsor. Sore hari saya harus berlatih fisik dan teknik dengan porsi latihan yang lebih berat dari tahun sebelumnya, malam hari harus rapat dan menyusun strategi-strategi lain dalam ekspedisi. Setiap bulan saya juga harus berlatih ke medan yang sesungguhnya, benar-benar perjuangan mewujudkan ekspedisi yang sangat menantang. Akhirnya ketekunan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan itu membuahkan hasil, saya dan tim mendapat izin melintas wilayah tambang menuju gunung Carstensz, mendapatkan sponsor yang sangat besar, hingga bisa memberangkatkan 13 orang anggota tim menuju Carstensz Pyramid.

 
Pendakian Carstensz Pyramid 2012

Kisah di atas baru perjuangan sebelum berada di gunung, ketika di lapangan, tantangannya semakin besar. Kami harus menghadapi tantangan gunung dengan karakteristik alam dan budaya yang berbeda dari yang biasa kami hadapi, khususnya tantangan alam.

Pada hari pertama pendakian, saat memasuki kondisi suhu ekstrim di atas gunung, dimana memasuki wilayah High Altitude, hampir semua anggota tim mengalami gejala mountain sickness, pusing-pusing, lemas bahkan sampai ada yang muntah-muntah.  Di satu sisi itu adalah hal wajar, sebagai proses aklimatisasi, tetapi sisi lain, kita juga harus siaga, menjaga kesadaran fisik dan mental agar tetap bisa sehat bertahan dalam kondisi aklimatisasi, karena jika tidak bisa melewatinya, resiko lebih besar akan menghantui kami. Akhirnya saya dan tim bisa melalui tahapan aklimatisasi tersebut. Setelah 3 hari pendakian kami berhasil tiba di Basecamp Lembah Danau-Danau, titik terakhir sebelum menuju ke Puncak Carstensz Pyramid.

 
Suasana Pendakian Menuju Puncak Carstensz
Saat Akan Melintasi Lintasan Tyroleans

Hari yang dinanti tiba, saat itu saya bersama 4 anggota tim, sebagai tim inti, bergerak menuju Puncak Carstensz dinihari pukul 02:30 WIT, di tengah kondisi suhu – 5 derajat celcius. 1 Jam pertama kami masih berjalan pada lintasan yang landai, sampai kepada titik pemanjatan dinding/ tebing Carstensz, di sinilah tantangan dimulai. Kami harus mulai mendaki dengan meniti tali yang tersedia, merayapi tebing sampai menuju Puncak. Di tengah perjalanan, hujan es dan salju turun mengiringi perjalanan kami selama melakukan pemanjatan, sampai kemudian kami telah melewati jalur yang sangat terkenal yaitu jalur tyroleans, dimana kami harus menyeberangi jurang sedalam 600 m dengan jarak lintasan sejauh 10 meter menggunakan teknik tyroleans. Dari lokasi ini, puncak hanya tinggal 1 jam lagi, kondisi cuaca semakin ekstrem, gelap, berkabut, hujan es pun masih belum berhenti, ditambah kondisi fisik yang semakin berkurang.

Di tengah situasi sulit itu, kami istirahat sejenak, menikmati minuman hangat dan cokelat untuk menambah kalori dan segera diskusi untuk strategi berikutnya. Kami sempat berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak, karena resiko bisa semakin besar jika menerjang badai. Sebagai ketua ekspedisi, saya menyemangati teman-teman kembali, mengingatkan akan mimpi kami semua, mimpi organisasi yang dibangun puluhan tahun untuk menuju ke sana, mengingat kembali perjuangan latihan yang begitu keras untuk menuju ke sana, meyakinkan bahwa kami bisa melalui tantangan di depan mata ini, di mana puncak impian sudah begitu dekat. Akhirnya, kami pun sepakat melanjutkan perjalanan menerjang badai, dengan prinsip sampai puncak sekuat-kuatnya, selebrasi, kemudian segera turun kembali secepat-cepatnya menuju basecamp. Perjalanan kami lanjutkan, celah-celah jurang dan tebing yang curam kami lewati di tengah terpaan badai angin dan salju, hingga akhirnya tepat pukul 10:30 WIT kami berlima tiba di puncak impian kami, Puncak Carstensz Pyramid , titik tertinggi di Indonesia.

Suasana Menuju Puncak Carstensz Pyramid
Puncak Carstensz Pyramid 9 September 2012

Dari perjalanan Carstensz ini, saya mendapati pembelajaran bahwa setelah kita mau menghadapi tantangan dan membangkitkan kekuatan, berikutnya kita harus melibatkan dimensi kekuatan daya juang kita sebagai alat bantu untuk memunculkan energi yang sangat besar dari dalam diri. Dimensi kekuatan daya juang ini, sebagaimana teori AQ yang disampaikan oleh Stolz yaitu CORE,  Control (Kendali), Ownership (Penguasaan Diri/Kepemilikan), Reach (Jangkauan) dan Endurance (Daya Tahan). Saya menyadari kunci saya dapat menggapai Puncak Carstensz Pyramid 4884 mdpl di ujung timur Indonesia, adalah dengan melibatkan dimensi kekuatan daya juang selama proses ekspedisi tersebut.

 

Strategi Pendakian Yang Ringkas dan Tepat Menuju Puncak Gunung Kerinci Tahun 2014
 
Puncak Gunung Kerinci 7 Mei 2014

Gunung Kerinci di Provinsi Jambi dengan ketinggian 3805 mdpl, adalah gunung tertinggi kedua di Indonesia setelah Carstensz Pyramid. Proses pencapaian menuju Puncak Kerinci adalah yang paling singkat dan ringkas dari perjalanan saya menggapai 7 Puncak tertinggi Indonesia. Saya mempersiapkan pendakian ini hanya sekitar 2 minggu, tidak lama setelah saya berhenti bekerja (resign) sebagai salah satu karyawan swasta di perusahan telekomunikasi di Jakarta. Saat itu adalah titik balik saya memutuskan untuk kembali berkarya sesuai passion saya di petualangan, setelah hampir setahun setelah lulus kuliah, menghentikan sementara aktivitas petualangan dan bekerja di kantor.

Untuk mengawali momen kembali ke dunia petualangan, saya harus melakukan suatu pencapaian, hingga dipilihlah perjalanan ke Kerinci. Saat itu, saya hanya mendaki berdua dengan teman saya saat aktif Pramuka di tingkat SMP. Dengan proses yang singkat, saya mencoba mengefektifkan strategi pendakian dengan ringkas tanpa menghilangkan esensi keselamatan dan keamanan berkegiatan. Karena hanya mendaki berdua, tentu peralatan dan perbekalan kami juga lebih ringkas, selain itu saya juga menyusun strategi pendakian yang singkat, 2 hari 1 malam untuk mendaki Kerinci. Akhirnya dengan strategi pendakian yang ringkas dan tepat ini, saya bisa melalui tantangan-tantangan yang ada dalam perjalanan dengan baik dan berhasil menggapai puncak Kerinci pada 7 Mei 2014.

 

Mempelopori Setiap Kemungkinan Menuju Puncak Gunung Bukit Raya di Tahun 2015
 
Saat Merintis Jalur Pendakian Bukit Raya

Gunung Bukit Raya dengan ketinggian 2278 mdpl adalah gunung tertinggi di Pulau Kalimantan. Saat itu, saya mendaki dalam program yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah dengan judul kegiatan “Jelajah Wisata Budaya,” di mana salah satu kegiatannya adalah ekspedisi Bukit Raya. Gunung Bukit Raya itu sendiri terletak di 2 Provinsi, yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Selama ini jalur yang sering digunakan oleh para pendaki adalah jalur dari Kalimantan Barat, sementara itu jalur dari Kalimantan belum terbuka dan dikelola dengan baik, sehingga diperlukan ekspedisi ini untuk merintis jalur pendakian dan kemudian mengembangkannya sebagai destinasi wisata gunung yang menarik bagi wisatawan pendaki. Mengingat sulitnya manajemen dan tantangan mendaki Bukit Raya melalui sisi Kalimantan Tengah, ekspedisi ini banyak didukung para pendaki berpengalaman dari wilayah lain, baik itu kepanitiaan ataupun peserta. Dengan bekal kemampuan yang dimiliki, saya dalam kesempatan tersebut mendaftar sebagai peserta, namun kemudian malah terpilih untuk menjadi salah satu ketua tim ekspedisi pendakian gunungnya. Perlu diketahui ekspedisi ini diikuti oleh sekitar 200 orang dari unsur Pemerintah Daerah, TNI/Polri, Wartawan, Komunitas Pecinta Alam dan Pendaki Profesional.

Pendakian Bukit Raya dimulai dari Desa Tumbang Habangoi, desa terpencil di jantung Kalimantan,  dengan waktu tempuh pendakian selama 8 hari. Pendakian dibagi dalam kelompok kecil berjumlah 8-10 orang melalui panduan jalur yang ditentukan. Dengan waktu 8 hari tentu peralatan dan perbekalan yang kami bawa harus mencukupi untuk bekal menjalahi rimba raya di Kalimantan ini. Saat itu, rata-rata bagi kami yang laki-laki membawa beban 30 kg. Belum adanya jalur resmi pendakian, sulitnya sumber air dan lebatnya hutan di Kalimantan,  membuat kami harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Setiap hari kami harus berjalan 8-10 jam pendakian, dengan melakukan rintisan jalur secara berkelompok.

Berbagai rintangan kami hadapi, dari mulai menyeberangi sungai-sungai, bertemu ular berbisa, ketidakpastian jalur pendakian, keterbatasan sumber air, mendaki hingga malam hari, keterbatasan area perkemahan, beban di ransel, terjalnya jalur pendakian hingga penurunan kondisi kesehatan anggota tim. Sampai kemudian, dengan berbekal ketekunan dan kekompakan menghadapi tantangan bersama-sama, saya dan anggota tim berhasil mencapai Puncak Bukit Raya pada 17 Agustus 2015, puncak kelima dalam rangkaian ekspedisi saya menggapai 7 puncak tertinggi Indonesia.

Pelajaran yang saya dapat adalah dengan mempelopori berbagai kemungkinan, dapat mengantarkan kita menggapai impian. Seperti halnya mendaki Bukit Raya melalui jalur Kalimantan Tengah, dengan terlibat langsung mendaftar sebagai peserta, saya dapat kesempatan menjadi salah satu Ketua Kelompok Pendakian Jelajah Bukit Raya, turut merintis pembukaan jalur resmi pendakian, dan memperkenalkannya menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi wisatawan pendaki. 2 tahun berselang setelah ekspedisi tersebut, saya kembali lagi ke Bukit Raya dengan membawa wisatawan untuk menjelajahinya, dan kini jalur tersebut sudah semakin berkembang dan banyak dikunjungi para pendaki dari berbagai daerah di Indonesia.

     
Puncak Bukit Raya 17 Agustus 2015

 

Jalani Setiap Tantangan Dengan Baik Menuju Puncak Gunung Rantemario di Tahun 2016

Gunung Rantemario dengan ketinggian 3478 mdpl adalah puncak tertinggi di jajaran Pegunungan Latimojong sekaligus puncak tertinggi di Pulau Sulawesi. Saya mendaki gunung ini saat menjalankan tugas sebagai pemandu wisata gunung dari operator wisata Indonesia Expeditions. Perjalanan mendaki gunung ini, memberikan pembelajaran bahwa dengan menjalani penderitaan dengan baik akan dapat mengantar kita menuju impian kita.

Sebagai pemandu, saya mulai bertugas 2 bulan sebelum pelaksanaan kegiatan. Saat itu wisatawan yang akan saya pandu sebagai besar minim pengalaman, sehingga butuh persiapan yang matang, salah satunya fisik, jadi program dimulai dengan melakukan latihan fisik bersama 1 minggu 2 kali (1 kali bersama, 1 kali masing-masing) dan latihan ke daerah pegunungan 2 kali di Bogor. Bagi sebagian peserta hal ini sangat memberatkan, begitu pun bagi saya, sebagai pelatih fisik yang harus menjaga semangat, motivasi dan menjadi teladan untuk tekun berlatih.

 
Puncak Gunung Rantemario 17 Agustus 2016

Tidak hanya persiapan di kota yang penuh dengan rintangan, pada saat pelaksanaan pendakian, kami pun menemui berbagai tantangan yang menguras fisik dan emosi. Jalur pendakian Rantemario sangat berat khususnya diantara pos 2-5 dimana kami akan melewati tanjakan-tanjakan terjal yang melelahkan. Untuk melewati jalur-jalur tersebut, dalam kondisi pendakian pertama bagi saya (belum punya pengalaman langsung di jalurnya) cukup memberatkan, tetapi saya juga harus bersikap tegar dan terus mendorong wisatawan yang saya bawa agar dapat melalui tantangan ini dengan baik. Saya harus sering bolak balik naik turun, untuk mengecek jalur dan membantu wisatawan mendaki tanjakan-tanjakan yang curam.

Tantangan yang tidak kalah berat adalah saat perjalanan menuju Puncak Rantemario dari Pos 7, dimana kami akan melewati punggungan puncak yang panjang, terjal, jalur yang membosankan dan teriknya sengatan matahari. Akhirnya sebagai pemandu, saya bangkitkan kekuatan diri dan tim untuk menjalani semua penderitaan tersebut dengan baik, saling menjaga semangat dan memberi kekuatan satu sama lain, hingga akhirnya pada 17 Agustus 2016 pukul 10:00 WIT, saya dan tim berhasil mencapai Puncak Rantemario, puncak tertinggi di Sulawesi sekaligus sebagai puncak keenam dalam pencapaian saya menuju 7 Puncak Tertinggi di Indonesia.

 

Hadapi Tantangan dan Hasilkan Kebahagian Setiap Hari di Gunung Binaiya Tahun 2017
 
Suasana Hutan Gunung Binaiya

Hari yang dinanti pun tiba, tepat pada 21 Juli 2017, saya berhasil menggapai Puncak Binaiya dengan ketinggian 3025 mdpl di Maluku, sebagai puncak ketujuh atau terakhir dalam pencapaian saya menjelajahi 7 puncak gunung tertinggi di Indonesia. Dalam pencapaian ini, yang semakin membuat saya bahagia adalah, bisa menggapai puncak impian bersama orang yang saya cintai, istri saya, yang 6 hari sebelumnya baru saja saya nikahi. Perlu diketahui, istri saya ini juga hobi mendaki gunung sejak masa SMA dan kami bertemu ketika sama-sama aktif di organisasi Mapala. Akhirnya, ketika ada waktu merayakan kebahagian bulan madu, saya atur manajemen perjalanan bulan madu kami yang tidak biasa, yaitu mendaki Gunung Binaiya. Saya ingin memberikan pengalaman berkesan untuk keluarga yang kami bangun, diawali dengan sama-sama berjuang menghadapi tantangan yang ada di Gunung Binaiya dan merasakan kebahagian bersama di puncak tertingginya.

Dalam pelaksanaan pendakian Gunung Binaiya, kami benar-benar mendapatkan apa yang kami prediksi sebelumya, sulitnya jalur pendakian Binaiya yang panjang, terjal, ditambah hujan yang berlangsung setiap hari menjadi teman perjalanan kami. Dalam perjalanan, saya sempat sedikit menyesal telah membawa istri pada situasi yang sulit selama 6 hari mendaki Gunung Binaiya dalam kondisi yang ekstrem. Namun demikian, penyesalan tersebut tidak boleh saya biarkan berlarut-larut, saya harus bisa mengendalikan situasi,  membawa diri saya dan istri untuk selalu berada pada sisi positif, kami saling menyemangati, memberikan energi , bahu membahu untuk dapat menghadapi setiap tantangan yang ada dan membuat kebahagian-kebahagian setiap hari, selama pendakian yang sangat spesial ini.

Ada cerita menarik dimana saat malam kelima pendakian, kami sudah berada di camp terakhir sebelum puncak Binaiya, badai angin dan hujan datang sepanjang malam, berulang kali saya harus keluar tenda untuk menguatkan pasak-pasak tenda agar tidak rubuh, berulang kali juga istri saya mengeluh kedinginin dan tidak bisa tidur. Dalam kondisi itu, saya terus berusaha menenangkan, menjaga dirinya dengan jaket dan sleeping bag, memaksa memberi asupan makanan agar tubuh tetap sehat dan badan menjadi hangat, serta tidak lupa kami berdoa agar kondisi cuaca segera membaik dan esok hari kami bisa menuju puncak. Sampai pukul 05:00 badai masih berlangsung, istri saya sudah memutuskan untuk tidak mau ikut ke puncak, sedangkan saya ambil keputusan jam 06:00 apapun kondisinya saya akan lanjut menuju puncak bersama teman pendakian kami lainnya, sementara istri, akan saya tinggalkan di tenda, benar-benar situasi yang sulit bagi saya, yang ingin kami sama-sama merayakan kebahagian di Puncak Binaiya. Lalu, dalam situasi sedang mempersiapkan bekal makanan menuju Puncak, tepat pukul 06:00 cuaca berubah drastis, yang tadinya badai gelap gulita menjadi terang benderang, kami dapat menyaksikan sinar matahari yang mulai terbit. Melihat kesempatan ini, saya bangunkan istri saya dan kemudian sedikit memaksanya untuk ikut ke Puncak, akhirnya ia pun mau ikut ke puncak. Selanjutnya kami segera bersiap-siap melengkapi perbekalan dan berjalan menuju puncak, saat itu saya dan istri bersama dengan 3 teman lain yang juga akan ke Puncak.

Lintasan perjalanan menuju Puncak Binaiya masih cukup berat di mana kita harus melewati celah-celah bebatuan, dan menyusuri punggungan puncak dengan jurang-jurang yang terjal. Namun dibalik kesulitan-kesulitan itu kami bisa menyaksikan keindahan alam Gunung Binaiya yang sangat memukau, tanaman endemik khas Binaiya yaitu Pakis Binaiya bisa kami lihat dengan indah, sepanjang jalan kami juga menemui rusa yang berkeliaran di sekitar area puncak dan dari kejauhan kami dapat melihat pemandangan laut lepas di Pulau Seram dan Ambon. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan 3 jam dari camp terakhir, saya, istri, dan teman-teman anggota tim berhasil mencapai puncak tertinggi Binaiya, puncak yang sangat indah, ditandai dengan tiang bendera merah putih, dengan hamparan padang savana yang hijau mempesona, berdampingan dengan bentukan batuan-batuan yang unik serta dipayungi langit biru yang begitu cerah. Saya peluk istri saya dengan penuh kebahagian yang mana bisa ikut serta dalam pencapaian yang spesial ini, pencapaian puncak ketujuh dari perjalanan saya menjelajahi 7 puncak gunung tertinggi di Indonesia bersamaan dengan perjalanan bulan madu kami berdua. Tak lupa, saya juga menyalami teman-teman yang ikut serta kali ini, kami berdoa bersama sebagai rasa syukur, berfoto bersama, serta istirahat menikmati makan dan minum di tengah pemandangan alam yang sangat indah.

Puncak Siale Gunung Binaiya 21 Juli 2017

Setelah melakukan selebrasi di puncak, kami segera melanjutkan perjalanan turun kembali ke basecamp, kami akan menginap satu malam lagi di tengah hutan, sebelum kembali menemui peradaban di desa. Singkat cerita, dalam perjalanan turun, tantangan yang kami hadapi belum usai, istri saya mengalami kutu air setelah melakukan 5 hari pendakian dalam kondisi basah dan hujan terus menurus hampir sepanjang hari, sehingga kakinya terinfeksi kutu air. Akhirnya, ia pun sudah tidak dapat lagi berjalan, sampai harus saya gendong sepanjang perjalanan turun ke desa, sementara itu, teman-teman saya ikut membantu dengan membawakan ransel saya dan istri. Dalam keadaan seperti ini, saya mencoba menjaga semangat diri saya sendiri, istri dan juga teman-teman yang lain, secara fisik kami mungkin sudah sangat kelelahan, tetapi kami masih memiliki pikiran dan jiwa yang kuat untuk melalui pendakian ini sampai selesai, hingga akhirnya setelah 2 hari 1 malam menempuh perjalanan turun yang melelahkan, kami berhasil tiba di Desa Piliana dengan selamat. Di desa, kami istirahat satu hari sebelum kembali ke kota Ambon menikmati wisata lainnya di dalam kota. Walaupun dengan penuh perjuangan, akhirnya saya berhasil membawa istri dan teman-teman menyelesaikan pendakian Binaiya yang sulit namun membahagiakan ini, benar-benar pengalaman luar biasa bagi diri saya. Dari perjalanan ini, saya belajar membangkitkan seluruh kekuatan dari seluruh pengalaman pendakian sebelumnya, hingga berhasil melalui tantangan untuk menghasilkan keberhasilan dan kebahagiaan setiap harinya.

 

Jadilah Pendaki Kehidupan Yang Hebat, Hadapi Tantangan dan Raih Kebahagiaannya.
Puncak Wayfuku Binaiya 2017

7 tahun 7 Puncak Tertinggi di Indonesia telah berhasil saya gapai dan jelajahi dengan aneka pengalamannya. Banyak kisah sedih, senang dan pastinya seru yang saya dapatkan sepanjang perjalanan ini. Perjalanan tersebut sesungguhnya bukan sekedar sebuah perjalanan menaklukan gunungnya, tetapi perjalanan menaklukan diri kita sendiri, menaklukan ego kita, menaklukan energi-energi negatif dalam diri kita, dalam proses memahami diri sendiri lebih mendalam, untuk membangun karakter positif dalam menjalani setiap tantangan kehidupan. Dari perjalanan ini, saya berproses membangun pola pikir dan sikap pendaki gunung itu sendiri dalam menghadapi tantangan untuk mencapai puncak impian, sebagaimana yang digambarkan Paul. G Stolz dengan tipe pendaki/climbersnya, yaitu kelompok orang yang selalu berupaya mencapai puncak kebutuhan aktualisasi diri. Kelompok ini tipe manusia yang berjuang seumur hidup, selalu siap menghadapi tantangan dan menciptakan pencapain-pencapaian baru yang lebih tinggi. Pencapaian saya ini, bukanlah akhir dari sebuah cita-cita dalam hidup, masih banyak tantangan dalam kehidupan yang harus saya hadapi untuk menggapai cita-cita lainnya, baik itu untuk keluarga, hobi, karier, kelompok, atau lebih luasnya bagi sesama manusia dan alam itu sendiri.  

Saya berharap artikel ini dapat menjadi pengingat bagi diri saya sendiri mengenai perjuangan yang telah saya lalui, bahwa segala sesuatu, tujuan atau cita-cita dalam kehidupan, dapat kita capai dengan penguasan pola pikir pendaki yang sistematis dan terus dilatih. Semua dapat dimulai dengan berani menghadapi tantangan, membangkitkan kekuatan diri, melibatkan dimensi kekuatan diri, mengatur strategi yang ringkas dan tepat, mempelopori setiap kemungkinan, tekun menghadapi setiap penderitaan, hingga akhirnya kita dapat melalui setiap tantangan yang ada dan menghasilkan kebahagiaan setiap harinya. Semoga artikel ini juga dapat memberikan inspirasi bagi setiap orang yang membacanya, untuk dapat menjadi pendaki kehidupan yang hebat dalam kehidupannya masing-masing.  

 

Salam

Rahman Mukhlis

COO Main Outdoor

“Setiap Impian Dalam Kehidupan Dapat Diraih Dengan Penguasan Pola Pikir Pendaki”


Share this post



← Older Post Newer Post →